Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Anies Baswedan Harus Benahi Sungai, Pengamat: Bukan Gusur tapi Geser

Anies Baswedan Harus Benahi Sungai, Pengamat: Bukan Gusur tapi Geser

Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga menyarankan Gubernur DKI Anies Baswedan mempercepat pembenahan 13 sungai secara bertahap untuk mencegah banjir.


"Pembenahan sungai di Jakarta itu mutlak dikerjakan kalau mau mencegah banjir," kata Nirwono melalui pesan singkat, Jumat, 12 Februari 2021.


Ia menjelaskan program penataan sungai di Ibu Kota sudah mempunyai pembagian yang jelas. Pemerintah DKI bertugas untuk membebaskan lahan, dan merelokasi warga.


Sedangkan Balai Besar Wilayah Ciliwung Cisadane Kementerian PUPR bertugas mengeruk, melebarkan badan sungai dan menata bantarannya. Penataan bantaran itu bisa diterapkan dengan konsep naturalisasi maupun dielaborasi dengan normalisasi.



"Jadi jangan dipertentangkan lagi naturalisasi atau normalisasi. Karena keduanya sama-sama bisa diadopsi," ujarnya.


Masalahnya, menurut Nirwono, sejak 2017 Anies Baswedan belum berani merelokasi warga yang tinggal di bantaran kali. Padahal konsep naturalisasi yang diusungnya tetap harus memindahkan warga dari bantaran ke rusun terdekat. "Jadi bukan menggusur, tapi menggeser saja warga ke rusun."


Selain itu, program penanggulangan banjir di Ibu Kota harus fokus pada tiga tipe penyebab banjir.


Tipe pertama adalah banjir kiriman. Banjir kiriman ini yang melanda DKI pada awal pekan ini saat Depok dan Bogor dilanda hujan deras dan mengirim limpahan air Ciliwung ke Ibu Kota. Sejumlah daerah di Ibu Kota pun terkena dampak bah kiriman dari Ciliwung seperti di kawasan Pejaten Timur, Kebon Pala, Bidara Cina hingga Kebon Baru.


"Maka solusi untuk banjir kiriman ini kali harus dilebarkan, dikeruk dan bantaran ditata bisa dengan harmonisasi naturalisasi dan normalisasi," ucapnya.


Kedua adalah banjir lokal. Banjir lokal yang cukup besar terjadi awal tahun lalu. Derasnya hujan di Ibu Kota membuat sejumlah wilayah limpah terendam banjir. Banjir lokal ini disebabkan buruknya sistem drainase.


Menurut dia, drainase di DKI sudah mesti direhabilitasi karena hanya mampu menampung hujan tidak lebih dari 150 milimeter. Jadi drainase di Ibu Kota mesti diperbesar kapasitasnya. "Utilitas dalam saluran juga mesti ditata terpadu, bebas sampah dan lumpur," ujarnya.


Tipe terakhir, yakni banjir rob yang sering melanda pemukiman di pesisir pantai utara setiap kali pasang air laut. Untuk mengatasi rob, Anies Baswedan disarankan melakukan regenerasi kawasan pantai dengan dihijaukan 500 meter dari daratan berupa hutan mangrove baru atau hutan pantai. "Warga pun harus direlokasi ke rusun terdekat." 

Posting Komentar untuk "Anies Baswedan Harus Benahi Sungai, Pengamat: Bukan Gusur tapi Geser"

Berlangganan via Email